I’m a roman catholic, gw aktif di KMK, banyak orang tau itu, tapi spiritualitas gw yang sebenernya, sedikit sekali yang tau.
Well, I’m an theist agnostic. I do believe the existence of God, yang kalo menurut definisi gw adalah the greatest force, causa prima, penyebab tidak ada menjadi ada, dan keadaannya tidak pernah tidak ada, melainkan selalu ada. Mungkin Tuhan menurut gw berbeda dengan yang menurut kalian. Menurut pendapat umum, Tuhan menciptakan, Tuhan mengabulkan doa, Tuhan mengirim orang baik ke dalam surga dan orang jahat ke dalam neraka. Tapi ga begitu menurut gw. Gw ga pernah tau nature dan sifat Tuhan seperti apa, dan apa aja yang dia lakukan, apakah dia benar-benar mengabulkan permintaan orang baik yang memohon kepadaNya dan menghukum orang yang jahat, atau dia tidak campur tangan terhadap apa yang terjadi pada manusia. Tapi yang jelas gw percaya, Tuhan itu benar-benar ada.
Many people separate existence of God and science. Science is anti-God, and God is the ignorance, anti-science. I don’t. Someone said, science without religion is lame, and religion without science is blind.
I have my own hypotheses, that God created science, or God is the cause of science’s existence, sehingga alam semesta bisa berjalan, berubah, bergerak, dan berkembang dengan sendirinya. Sains adalah sistem yang mengatur segala behaviour alam semesta, yang menyebabkan segala sesuatu tercipta, atau musnah.
Dasar dari hipotesis gw adalah 2 di bawah ini:
1. Sains menunjukkan, alam semesta berkembang dan bertambah besar. Hal itu berarti, harus ada starting point dari semuanya karena sains berkata, ada tidak mungkin dimulai dari tidak ada, jika kita menganggap dasar dari sains adalah valid dan tidak mengkontradiksikan itu. Itu berarti, ada sesuatu yang di luar sains, yang lebih kuat dari sains, yang lebih dulu ada.
2. Creationism sounds like a fiction to me. Bukti-bukti yang ada lebih mendukung theory of evolution daripada creationism, meskipun teori evolusi tidak sempurna, karena adanya rantai-rantai yang hilang dalam teori evolusi Darwin. Mungkin saja suatu saat ditemukan teori lain yang lebih mendekati kebenaran, atau bukti yang melengkapi teori evolusi, atau justru membenarkan teori penciptaan. Tapi yang jelas, sekarang, teori evolusi jauh lebih masuk akal daripada penciptaan, meskipun gw punya sanggahan terhadap teori evolusi, yaitu:
Antropologi mengatakan, nenek moyang segala ras di dunia adalah ras negroid. Jadi dulu semuanya adalah ras negroid. Melalui seleksi alam, mereka beradaptasi dengan lingkungan masing-masing. Manusia berlubang hidung lebar dan berkulit gelap perlahan-lahan tereliminasi dari belahan bumi utara, karena tidak mendukung pertahanan terhadap cuaca dingin, jadilah perlahan-lahan mereka berevolusi menjadi kaukasoid, begitu juga dengan ras-ras yang lain.
Sementara nenek moyang negroid (homo sapiens) adalah manusia-manusia purba. Dan awalnya primata. Tidakkah kalian berpikir, mengapa monyet masih ada di bumi dan pra-manusia tidak ada lagi? Hanya ada fosilnya? Kenapa semuanya punah terkena seleksi alam sedangkan monyet tidak? Dan jika dikatakan, monyet->pra manusia A->B->C->D->E->negroid->manusia berbagai macam ras (skema evolusi), tidakkah kalian melihat kelemahan pada skema itu? mengapa tingkatan di bawah manusia berbagai macam ras tidak mengalami divergensi, sedangkan setelah negroid, manusia mendiami berbagai belahan dunia dan mengalami divergensi? Padahal iklim dan faktor-faktor pendukung adanya adaptasi dan evolusi juga ada. Tidakkah itu aneh?
Di atas adalah sanggahan asli pikiran gw, bukan kutipan dari manapun. Kalo pengen ngutip, mohon dilink ke sini.
Biarpun kelemahannya fatal, tapi tetap saja evolution lebih make sense daripada creationism, karena telah dibuktikan, dengan perkawinan campur, faktor seleksi alam, dan lain sebagainya, karakteristik dari sebuah makhluk hidup bisa berubah, bahkan spesiesnya bisa berubah. Itu mendukung teori evolusi.
Sejauh ini, pengamatan panca indra kita mengatakan, belum pernah ada dalam sejarah, benda yang baru tercipta dari kekosongan. Maka itu, saat ini gw berani bilang creationism failed. There’s no proof behind it. Yang ada cuma teori, dan itupun dalam kitab suci, yang ga menjelaskan banyak.
Bagi gw, isi dari bible, terutama perjanjian lama dan injil, mukjizat-mukjizat yang terjadi, itu benar-benar seperti dongeng. Orang yang punya akal sehat ga akan langsung percaya bumi tercipta dalam 6 hari, laut merah bisa dibelah, dll. Jika kitab suci memang benar adanya dan Tuhan sebegitu berkuasanya, kenapa 6 hari? Kenapa ga dibuat 1 milisekon aja? Atau 1 mikrosekon? Lagipula, ketika bumi diciptakan, manusia belum diciptakan. Jadi siapa yang ada di sana dan menyaksikan alam semesta kosong, lalu hari pertama langit dan laut diciptakan, hari kedua tumbuhan diciptakan, dan seterusnya? Siapa yang nulis? Ga ada.
Setelah-setelah itu, misalnya kisah Kain dan Habel, gw yakin manusia saat itu belum mengenal tulisan, dan jika sudahpun, apakah mereka sudah memikirkan untuk mendokumentasikannya? I don’t think so. Jadi gw lebih berpikir, kitab-kitab awal terutama kejadian hanya karangan manusia.
Jaman dahulu, Tuhan bisa langsung kontak dengan manusia, hal-hal ajaib sering sekali terjadi, seperti yang ada di perjanjian lama. Tapi sekarang? Ga ada. Makin lama, juga seperti yang didokumentasikan di kitab suci, hal-hal ajaib makin berkurang frekuensinya. Old testament is almost a hoax.
Injil sebagian mengandung kebohongan, tidak semuanya adalah benar, sudah dibumbui macam-macam. Mengandung inkonsistensi, tentang bagaimana Yudas Iskariot mati, apakah gantung diri, atau isi perutnya terburai begitu saja di tanah. Ingat, injil adalah karangan manusia, jadi tidak 100% benar. Kita tidak bisa menjamin penulisnya 100% jujur, atau 100% mendapat informasi yang benar.
Gw ga yakin Yesus adalah Tuhan. Yang gw lebih percaya, dia adalah orang yang sangat baik dan berpikiran tinggi, dan ingin membuat manusia hidup lebih baik lagi. Maka, ia mengaku sebagai Tuhan untuk mengembangkan ajarannya. Oh, he’s also a socialist. End of story.
I hate people who force their faith to other people. Terutama christian evangelist. Ketidaksukaan gw ga terbatas pada umat-umat beragama, tapi juga atheis yang memaksakan pandangan atheisnya ke orang lain. Biarkan saja semua orang hidup dengan faithnya masing-masing, memberi informasi tentang agama/atheisme tidak ada salahnya, tapi jangan maksa. Gw benci banget sama orang-orang yang ngajak temennya ke gereja, tapi kalo temennya ga mau, jadi dijauhin. Jaman sekarang promosi gereja mirip ama MLM ya?
Sifat Tuhan dan doktrin yang diajarkan di agama itu mudah dikontradiksikan..
Anggap fact: Tuhan maha baik.
Bagaimana dengan orang-orang yang hidup di tempat terpencil, jaman dulu, ga pernah mendengar agama?
Jika mereka semua masuk neraka, Tuhan itu tidak baik. Tuhan itu sangat kejam.
Jika mereka diterima di tempat yang sesuai dengan perbuatan mereka, karena mereka tidak tahu akan adanya Tuhan, kalau begitu ngapain kita punya agama?
Jokes:
Priest: Believe in Jesus, you will go to hell if you don’t.
Eskimo: Then, how about people century ago who never heard about Jesus? Do they all go to hell?
Priest: No, because they don’t know.
Eskimo: So, why you tell me?
Explanation: Fungsi agama hanya untuk standarisasi moral dan membimbing manusia kepada Tuhan, sebagai pegangan di kala manusia goyah, bukan sebagai patokan masuk-surga atau masuk-neraka. Jika agama diartikan sebagai yang terakhir, manusia akan berbuat baik hanya demi amal di surga, dan menghindari kejahatan demi menghindari neraka, bukan untuk membagi kebahagiaan dan menghindarkan sesamanya dari penderitaan. So lame if all people thinks like that.
“Jika surga dan neraka tak pernah ada, akankah kita tetap tunduk kepadaNya?”
Gw ga suka jika faith gw dicemari dengan doktrin-doktrin, termasuk kristen, agama gw sendiri. Maka, dalam hati gw, gw ga menerima christianity, biarpun, setelah konsili vatikan II, gereja katolik menyatakan pintu surga terbuka juga untuk semua orang, tanpa pengecualian.
Gw ga 100% percaya adanya surga dan neraka, karena, jika kehidupan hanya 1 siklus, surga akan penuh dan neraka akan penuh. Biarpun demikian, masih ada kemungkinan keduanya ada. Reinkarnasi juga, punya probabilitas untuk ada. Gw bener-bener have no idea akan kehidupan setelah kematian. Gw pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, sesuatu yang di luar akal sehat. Gw liat waktu umur 6, dengan dd gw, Amanda, umur 3. Kejadian yang melibatkan (katanya) poltergeist, barang-barang di kamar semuanya bergerak sendiri, melayang, tanpa ada penyebab apapun. I swear I’m not drunk and it’s not just a dream. Keterangan manda sama persis ama gw ketika kami udah besar dan mendiskusikannya lagi. Gw amat yakin itu benar. Walaupun gw lebih yakin poltergeist itu semacam makhluk hidup lain yang tidak kasat mata, gw tetap terbuka akan adanya penjelasan lain, bahwa ada kehidupan setelah kematian. Kemungkinannya kecil untuk gw percaya ada surga dan neraka, I’m more open to reincarnation, meskipun gw juga ga benar-benar percaya. Sebenarnya lebih sederhana untuk jadi pure free thinker, atau jadi penganut blind faith. Tapi, blind faith is simply a foolishness, dan ada hal-hal yang ga bisa dijelaskan dengan sains, misalnya seperti yang gw saksikan. Jadi keduanya ga valid. Kesimpulannya, sains ga selalu berlaku, atau sains yang ada sekarang kurang, sehingga perlu dilengkapi dengan teori baru.
Semua post di sini abu-abu, terbayang kabut, pandangan gw tidak jelas di sini, karena gw masih belum tahu mana saja yang benar. Dunia kita terlalu palsu dan tercemar, sehingga kebenaran terasa samar-samar. Sampai saat ini, 1 hal yang gw pegang teguh adalah Tuhan itu ada. Gw ga tahu, apakah Tuhan campur tangan terhadap kehidupan kita, ataukah dia biarkan sistem yang dia ciptakan, yaitu sains yang mengatur semuanya dan posisi dia hanya sebagai greatest substance yang merupakan sumber dari segalanya, tapi ia tidak melakukan apa-apa untuk mengubah sistem yang ia ciptakan.
Ngomong-ngomong, kenapa gw tetap katolik dan masih ke gereja? I’m really an opportunist and pragmatic person. Since I don’t know the truth, kalo kristen benar, surga dan neraka ada, maka gw akan terhindar dari neraka. Kalo ga, gw juga ga rugi apa-apa. Kasarnya buat jaga-jaga. Masuk akal kan? I don’t know if this is bad or not bad. Ada faktor lain juga, orangtua gw didik gw secara katolik dari gw kecil, gw banyak mengecewakan mereka, karena itu gw ga tega untuk nambah kekecewaan mereka dengan menolak gereja
meskipun dalam hati gw, gw ga gitu percaya.
Gw terbuka untuk masukan dari kalian. Jika terbukti agama–apapun itu–benar, gw bersedia membuka diri gw dan menerimanya, jika terbukti Tuhan tidak ada gw bersedia jadi atheist. Asalkan semuanya benar-benar terbukti dan pintu kebenaran jadi terbuka.